Tuesday, 30 August 2016

Perepet Merepet

Bercerita. Menunggu terbitnya matahari tepat di kala tergelap.
Tidak, tidak sekedar bercerita.
Menggagas wacana dan mencoba bereksperimentasi dalam keseharian.
Diri, adalah percobaan.
Meletakkan nyaris segalanya dalam pertaruhan.
Toh tidak pernah sendirian, sebetulnya.
Walau memang datang dan pergi pasti sendirian, senyatanya.

Berapa banyak persimpangan?
Berapa banyak perjumpaan?
Setiap menit adalah pilihan.
Menjalani sebenar-benarnya sesungguh-sungguhnya.
Perjuangan.
Meretas kebodohan dan kemiskinan akses.
Sekalipun kata kadang bercerai habis di kepala.
Belajar.
Sekalipun kerap dipandang sebelah mata.
Ah tapi yang paling pahit masihlah ketidakadilan, bukan ejekan.

Thursday, 21 July 2016

Jatuh Cinta di Kota Lama

Bertahun-tahun hidup di sebuah kota yang menarik rupanya belum tentu membuat seorang makhluk semacam saya berkunjung ke ruang-ruang eksentrik kota tersebut. Hingga suatu hari kesempatan dan energi semesta membawa saya berjumpa dengan seorang kawan lama. Spiegel Bar & Bistro di Kota Lama, itulah destinasi yang diajukan kawan lama saya untuk dijumpa. Tentu saya tak tahu tepatnya dimana lokasi itu. Jadi berbekal obrolan lima menit dengan tukang becak dan kesepakatan harga, saya pun menyusuri kawasan Utara kota Semarang.

Di kota yang terbilang besar ini, becak masih ada di sejumlah titik. Kawasan Utara merupakan salah satu kawasan tertua kota Semarang. Di sekitar sini, kita masih bisa menjumpai banyak tukang becak dengan harga yang cukup mudah ditawar. Tapi jangan pernah tampakkan gaya keturisan Anda atau gaya sok Jakarta, Anda bisa-bisa kena harga yang cukup mahal.

Sembari menyusur Semarang dengan naik becak, saya bermain Pokemon Go. Maklum, hari-hari ini game keluaran Niantic ini tengah melejit. Saya adalah salah satu mudi yang penasaran akan permainan ini. Mumpung ternyata Pokemon bertebarang sepanjang jalan, saya pun asik menangkapi Pokemon.

Sampai kemudian gerimis turun dan saya terpaksa menyimpan ponsel yang tidak anti air ini. Bapak Becak menolak untuk menepi karena kami sudah dekat dengan Spiegel yang konon terletak dekat Gereja Blenduk di Kota Lama. Saya pun menurut sambil mata mulai melihat-lihat kota yang basah oleh hujan; abu-abu dengan wangi tanah basah yang begitu khas.

Hujan dan kamera ponsel jadi berembun

Sesampainya di Spiegel, saya langsung membuka sebuah pintu di depan saya. Pintunya tak mau terbuka. Aih, rupanya itu bukan pintu masuk resto. Seorang turis lokal menunjukkan jalan masuknya pada saya. Malu-malu sambil berucap terima kasih, saya pun beringsut membuka pintu yang dimaksud.

Sesampainya di dalam gedung Spiegel, mata saya langsung dimanjakan oleh bangunan resto yang klasik namun modern. Begitu luas namun langsung memberi kesan homy. Saya langsung suka sejak langkah pertama. Mata saya tak henti-hentinya menelusur bangunan peninggalan Belanda yang kini menyajikan sebuah bar modern tepat di tengahnya.

Bertemu Nisa sekaligus jatuh cinta terhadap bangunan Spiegel yang ciamik
Saya mengitari meja bar. Jujur saja, saya tidak familiar dengan aneka minuman di rak bar. Tapi nampaknya sangat lengkap dan profesional. Alun musik jazzy membuat suasana resto ini betul-betul classy tapi anehnya tetap tidak sok eksklusif.

Wednesday, 13 July 2016

That Day I Discovered Secret Treasure


Pemalang is still not well-known for its tourism spots. But this doesn’t make the town has less admirable places for vacation. In fact, the town hides so many enhancing spots for those who seek adventurous vacation. It will make the seekers find unpredictable treasure.

My trip was started from a small village named Paduraksa in Pemalang sub district. Pemalang is actually a district in Central Java, quiet big and possessing various land contours. Standing between the great mount Slamet and Java Seas, the district has coastal low lands on its north area and beautiful plateau on its south side, exactly at the foot of mount Slamet.

The destination this time was some natural spots in Moga sub district. It was about 40 km from Paduraksa by motorcycle. To go there, we need to pass several sub districts and also some forest plantations. For the first 10 minutes, our eyes will be greeted by the mysterious shade of withering teak forest. After that, the soothing sight of vast green rice fields will appear. The great mount Slamet stands tall as a background. It took about 1,5 hours to get to Moga sub district. From there, we will head to Banyumudal village where some natural springs are located. The name of Banyumudal itself means squirting water, referring to the rich natural springs in the area.

Kali Suci natural spring water in Banyumudal, Moga
Photo by Anggra

Monday, 27 June 2016

A Letter From 2013

Dear Wish,

I wish you are not just a Wish. I wish you are also courage for me. I wish you are confidence pushing me to be a better thing. I wish you are a gigantic trampoline that can make me leap to seize my will.
But you are not.

You are just a Wish. You will give me courage but you are not the courage itself. You will give me confidence but you are not the confidence. You also are not the gigantic trampoline but you are the one I must seize.

Dear Wish, I need to tell you this. I don’t know what love is. I don’t even understand it, not sure did I ever feel it. But I know precisely I am

A Travel Starter

The first time was always a difficult one, but it was worth to try. I guess that was how I felt for my first travelling experience.

It was challenging even to get onto the bus to Pangandaran. I was almost late due to the traffic. Luckily, I came on time. At 8 PM sharp, I started my trip to Pangandaran – a quiet land in southernmost of West Java.

It was a long night ride. Nothing much to see at first. Only the outskirts of Jakarta and Bandung.  By 12 AM, the bus stopped in Nagreg to take a rest. I hadn’t been there before, but I heard this will be a bumpy bus ride started from Nagreg.

Once the bus rolled down the road again, the rumours proven to be right. The flat lane had been replaced by uphill and downhill roads. Dark forests were on our right and left side. The sharp turns seem to be endless. It was impossible for me to close my eyes. I gripped my jacket tightly.  It was my first time travelling  and I felt nervous. Especially with such bumpy ride.

I turned my head to the window next to me wishing for some distractions. I could see green landscapes vividly moved and the twin mountain shadowing a town outside. I bet this was Garut, a small town down the twin mountain. The scenery outside seemed so quite. The cold night air created hazy dews on the window glasses.

From Garut, we were passing another towns. Green landscapes and valleys were replaced with small roofs and trees. By the time the bus left Banjar, it turned right and crossed a big bridge. There was a board telling that this was the direction to Pangandaran. The light was getting dimmer since then.

Monday, 16 May 2016

Tanda Cinta Kwan Im Menatap Semarang



Pagoda Avalokitesvara terlihat dari Vihara Buddahagaya
Keragaman budaya dan identitas di Indonesia merupakan salah satu khasanah yang menjadi harta tak ternilai dari negeri ini. Tak kurang dari enam agama telah hidup bersisian di negeri ini dengan beraneka ragam tradisi yang unik. Meskipun perlu diakui bahwa keberadaannya tak selalu rukun satu sama lain, namun kekayaan dari multikulturalisme Indonesia tak bisa dinafikan. Di antara keenam agama yang diakui, pengikut agama Buddha terhitung dalam jumlah populasi yang paling sedikit. Berdasarkan sensus di tahun 2010, pengikut agama Buddha di Indonesia hanya mencapai angka sejumlah 0,05%.  Namun jumlah yang sedikit ini tak lantas mengurangi kontribusi agama Buddha dalam memperkaya khasanah budaya Nusantara.

Adalah Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Buddhagaya yang terletak di Watu Gong Kabupaten Ungaran yang menjadi salah satu artefak kebudayaan Buddha di Indonesia. Kompleks vihara seluas 2,25 hektar ini berdiri sejak tahun 1955 dan berada sedikit lebih tinggi dari wilayah Kota Semarang. Ia terdiri dari 5 bangunan dengan 2 buah bangunan utama; Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Buddhagaya. Keduanya berada di bawah binaan Sangha Theravada Indonesia yang mencirikan aliran Theravada dalam ajaran Buddha. Ini merupakan jenis aliran Buddha yang banyak dianut di India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja. Sehingga tak heran, bahwa bentuk vihara cenderung menyerupai vihara-vihara di Asia Tenggara dan Selatan.

Monday, 2 May 2016

Tentang Penerbang Menuju Bintang


Dulu, aku selalu merasa bahwa di kedua punggungku ada sayap-sayap kecil yang tengah tumbuh. Suatu hari nanti ia akan menjadi kokoh dan membawa ku melambung menuju angkasa raya tempat bintang-bintang berada. Tempat segala impi dan harapan bernaung menungguku untuk meraihnya. Kaki ku juga dilengkapi roket yang siap menjadi tolakan kokoh. Segalanya ada. Aku hanya harus berusaha sedikit lebih keras untuk melompat.

Tetapi semesta menawarkan alur cerita yang lain. Roket di kakiku meledak dan hancur berkeping. Meninggalkanku tanpa pendukung penerbangan yang mumpuni. Tak lama kemudian, sayap-sayap kecil di punggungku merontok. Meninggalkan punggung ini gundul dan menggigil. Untuk waktu yang lama, aku hanya mampu menatap bintang tanpa berani menginginkannya.

Susah payah, kembali aku paksakan agar sayap di punggung bertumbuh kembali. Aku tak peduli ada atau tidaknya roket pendukung. Yang penting aku ingin terbang. Yang penting aku harus mengingkan gemintang itu. Tanpa keinginan itu, aku bukan manusia dan bukan pula mayat. Di ambang kematian tapi tak kunjung betulan mati jua. Aku harus bersayap lagi.

Wednesday, 27 April 2016

Dimana Tuhan?

Tuhan bersama kita
Ketika kita memandang Bimasakti kala purnama
Ketika kita larut dalam imaji lanskap alam yang penuh pesona

Tadaima! I'm home!


Setelah sekian lama terkurung bising yang luar biasa memekakkan telinga, akhirnya kesempatan itu datang. Sekalipun begitu sempit, tapi ia tetaplah kesempatan. Sebuah sunyi akhirnya bersenandung damai. Sekalipun sunyi itu diawali dengan peristiwa jatuh berguling dari kereta api Tawang Jaya yang belum betul-betul berhenti melaju. Lutut pun berdarah dan rasanya cukup pedih.

Tapi itu pun sungguh malah makin mengingatkan hari-hari lalu di kota ini. Kota yang menyaksikan seorang gadis bengal tumbuh. Seorang gadis yang acap kali terjatuh tanpa sebab dan pulang ke rumah dengan luka dedel dowel sembari menangis kencang. Kota yang delapan tahun lalu aku tinggalkan karena terpaksa...

Monday, 25 April 2016

Beth

Gadis itu mendengarkan seolah gemuruh air yang mengalir adalah deru di dadanya yang sesak. Gadis itu nyaris terpekik ketika menyadari bahwa gemuruh yang mengetuk indera pendengarnya tak lain adalah darah Theresa yang berkejaran keluar dari arteri jantung. Sementara itu, seorang lelaki jangkung bernama Binson menyeretnya. Meneriakkan kata-kata yang terdengar berasal dari timbunan neraka. Gadis itu meronta. Gadis itu ingin duduk di sisi Theresa layaknya sosok yang berjaga di tepi ranjang pesakitan.

Tetapi Binson menyeretnya lagi. Gadis itu meronta. Binson lalu menghajar gadis itu.