Monday, 12 June 2017

Judul : Pertolongan Pertama Pada Sinema

Catatan lapangan pasca menonton, 15 Agustus 2016, Foto oleh Anggraeni Widhiasih
Jadi, ini adalah sketsa tulisan yang sudah nyaris setahun ada di buku catatan. Waktu itu saya baru saja kembali dari menonton salah satu film yang diputar pada permulaan Arkipel 2016. Tidak banyak yang saya ketahui tentang menulis film, kecuali sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu sebagai tugas kuliah dan sebagai kesenangan dalam mengomentari film yang memberi pengalaman spesial.

Tulisan ini pun adalah bagian dari luapan kesenangan usai menonton film tersebut. Secara bentuk, sebenar-benarnya saya lumayan terkejut dengan dua film yang saya tonton di Erasmus Huis tanggal 15 Agustus 2016 itu. Jika menilik deskripsi festival film Arkipel, maka jelaslah bahwa film ini ialah film dokumenter dan eksperimental, yang demi Tuhan baru saya kenal lewat festival ini. Awalnya saya gelisah jikalau tidak bisa menikmati film eksperimental dan tertidur di tengahnya, yang mana sering terjadi ketika bosan dengan bagian listening di ujian Bahasa Inggris dan di tengah kebosanan lainnya. Tetapi kegelisahan itu terbukti keliru. Entah kenapa saya malah terpukau dengan kedua film itu. Barangkali karena saya terkejut dengan ide jenial pembuat film yang menyampaikan pesan-pesannya lewat film semacam itu.

All That is Somehow Useful merupakan sebuah film pendek buatan sutradara Pim Zwier yang waktu itu ditayangkan. Film asal Jerman ini dirilis pada tahun 2013 dan tayang dalam format warna hitam putih. Sekarang ketika saya mengetikkan judul ini pada mesin perambah google, barulah saya tahu bahwa film berdurasi 8 menit ini memang film eksperimental. Tapi saya tidak akan membahas soal genre-nya. Yang justru ingin saya ungkapkan adalah bagaimana komunikasi visual dari film juga dibantu oleh judul.

Saturday, 24 December 2016

Detaching


Like ghosts, our memories are haunting.
Keep looking at pieces that won't fit anymore.
While the ethereal feelings come up and down.

Most of time.

Memories are becoming the ethereal sunshine between the withering teak forest.
Heart warming but it'll pass.

The laughing wind and the dancing memory.
Palpably shaping through time.

Sunday, 18 December 2016

Manisfesto Yatim Piatu

Seorang yatim piatu tidak punya kemewahan buat mengeluh. Apalagi untuk berbuat masalah tanpa bisa menanggungnya. Ia sudah musti paham bagaimana mengukur daya dan upayanya. Dan tidak coba-coba bikin perkara yang tak bisa diakali juntrungnya. Ia sudah harus tahu hakikat tentang berdiri sendiri, tanpa membuat repot.

Sebab kalau bikin repot, tiada bapak-ibu yang bakal bantu.

Tentang Yang Suka Bikin Rusak


Rayap makan buku
Rayap makan baju
Rayap tukang makan
Rayap tak punya segan

Kain dibuat rusak
Rumah dibikin bubrak
Rusuknya retak

Monday, 28 November 2016

Not Ight


But Light,
It is since dim to bright
Eyes are longing for a virtual sight
A means to get tight

Sunday, 6 November 2016

Kentut

Kalau sedang ditimang Cupid,
Membaca naskah otonomia saja bisa bikin jadi degdegan
Kejadian yang sialan
Karena tentu saja ini sebelah tangan
Dan barangkali tak diperlukan
Sebab mengganggu
Pun,
Aku tak ada dalam kategori
Haha


Tuesday, 30 August 2016

Perepet Merepet

Bercerita. Menunggu terbitnya matahari tepat di kala tergelap.
Tidak, tidak sekedar bercerita.
Menggagas wacana dan mencoba bereksperimentasi dalam keseharian.
Diri, adalah percobaan.
Meletakkan nyaris segalanya dalam pertaruhan.
Toh tidak pernah sendirian, sebetulnya.
Walau memang datang dan pergi pasti sendirian, senyatanya.

Berapa banyak persimpangan?
Berapa banyak perjumpaan?
Setiap menit adalah pilihan.
Menjalani sebenar-benarnya sesungguh-sungguhnya.
Perjuangan.
Meretas kebodohan dan kemiskinan akses.
Sekalipun kata kadang bercerai habis di kepala.
Belajar.
Sekalipun kerap dipandang sebelah mata.
Ah tapi yang paling pahit masihlah ketidakadilan, bukan ejekan.

Thursday, 21 July 2016

Jatuh Cinta di Kota Lama

Bertahun-tahun hidup di sebuah kota yang menarik rupanya belum tentu membuat seorang makhluk semacam saya berkunjung ke ruang-ruang eksentrik kota tersebut. Hingga suatu hari kesempatan dan energi semesta membawa saya berjumpa dengan seorang kawan lama. Spiegel Bar & Bistro di Kota Lama, itulah destinasi yang diajukan kawan lama saya untuk dijumpa. Tentu saya tak tahu tepatnya dimana lokasi itu. Jadi berbekal obrolan lima menit dengan tukang becak dan kesepakatan harga, saya pun menyusuri kawasan Utara kota Semarang.

Di kota yang terbilang besar ini, becak masih ada di sejumlah titik. Kawasan Utara merupakan salah satu kawasan tertua kota Semarang. Di sekitar sini, kita masih bisa menjumpai banyak tukang becak dengan harga yang cukup mudah ditawar. Tapi jangan pernah tampakkan gaya keturisan Anda atau gaya sok Jakarta, Anda bisa-bisa kena harga yang cukup mahal.

Sembari menyusur Semarang dengan naik becak, saya bermain Pokemon Go. Maklum, hari-hari ini game keluaran Niantic ini tengah melejit. Saya adalah salah satu mudi yang penasaran akan permainan ini. Mumpung ternyata Pokemon bertebarang sepanjang jalan, saya pun asik menangkapi Pokemon.

Sampai kemudian gerimis turun dan saya terpaksa menyimpan ponsel yang tidak anti air ini. Bapak Becak menolak untuk menepi karena kami sudah dekat dengan Spiegel yang konon terletak dekat Gereja Blenduk di Kota Lama. Saya pun menurut sambil mata mulai melihat-lihat kota yang basah oleh hujan; abu-abu dengan wangi tanah basah yang begitu khas.

Hujan dan kamera ponsel jadi berembun

Sesampainya di Spiegel, saya langsung membuka sebuah pintu di depan saya. Pintunya tak mau terbuka. Aih, rupanya itu bukan pintu masuk resto. Seorang turis lokal menunjukkan jalan masuknya pada saya. Malu-malu sambil berucap terima kasih, saya pun beringsut membuka pintu yang dimaksud.

Sesampainya di dalam gedung Spiegel, mata saya langsung dimanjakan oleh bangunan resto yang klasik namun modern. Begitu luas namun langsung memberi kesan homy. Saya langsung suka sejak langkah pertama. Mata saya tak henti-hentinya menelusur bangunan peninggalan Belanda yang kini menyajikan sebuah bar modern tepat di tengahnya.

Bertemu Nisa sekaligus jatuh cinta terhadap bangunan Spiegel yang ciamik
Saya mengitari meja bar. Jujur saja, saya tidak familiar dengan aneka minuman di rak bar. Tapi nampaknya sangat lengkap dan profesional. Alun musik jazzy membuat suasana resto ini betul-betul classy tapi anehnya tetap tidak sok eksklusif.

Wednesday, 13 July 2016

That Day I Discovered Secret Treasure


Pemalang is still not well-known for its tourism spots. But this doesn’t make the town has less admirable places for vacation. In fact, the town hides so many enhancing spots for those who seek adventurous vacation. It will make the seekers find unpredictable treasure.

My trip was started from a small village named Paduraksa in Pemalang sub district. Pemalang is actually a district in Central Java, quiet big and possessing various land contours. Standing between the great mount Slamet and Java Seas, the district has coastal low lands on its north area and beautiful plateau on its south side, exactly at the foot of mount Slamet.

The destination this time was some natural spots in Moga sub district. It was about 40 km from Paduraksa by motorcycle. To go there, we need to pass several sub districts and also some forest plantations. For the first 10 minutes, our eyes will be greeted by the mysterious shade of withering teak forest. After that, the soothing sight of vast green rice fields will appear. The great mount Slamet stands tall as a background. It took about 1,5 hours to get to Moga sub district. From there, we will head to Banyumudal village where some natural springs are located. The name of Banyumudal itself means squirting water, referring to the rich natural springs in the area.

Kali Suci natural spring water in Banyumudal, Moga
Photo by Anggra

Monday, 27 June 2016

A Letter From 2013

Dear Wish,

I wish you are not just a Wish. I wish you are also courage for me. I wish you are confidence pushing me to be a better thing. I wish you are a gigantic trampoline that can make me leap to seize my will.
But you are not.

You are just a Wish. You will give me courage but you are not the courage itself. You will give me confidence but you are not the confidence. You also are not the gigantic trampoline but you are the one I must seize.

Dear Wish, I need to tell you this. I don’t know what love is. I don’t even understand it, not sure did I ever feel it. But I know precisely I am